
π
Rabu, 29 Juli 2026
π 21.48 WIB
Malam ini rembulan tampak begitu bulat. πβ¨
Entah kenapa, setiap rembulan semakin penuh, udara di Moyudan terasa semakin dingin. Orang Jawa bilang, mungkin malam ini sekitar tanggal 17 bulan Jawa. πΎπ
Seperti biasa…
Langkah kaki mengarah ke asrama putra.
Bukan patroli…
Bukan juga sidak…
Hanya ingin melihat, malam ini ada cerita apa di pesantren. π
Sejenak mampir ke dapur.
Di sana masih ada Pak Budi, Bu Supri, dan Bu Iyut. π¨βπ³π©βπ³β€οΈ
Jam sudah hampir pukul sepuluh malam.
Tapi tangan mereka masih sibuk mengiris buncis. π₯¬πͺ
Bukan untuk malam ini.
Melainkan untuk sayur santri esok pagi.
Kadang kita hanya menikmati sepiring sayur hangat… π²
Tanpa pernah tahu, ada orang-orang yang menyiapkannya sejak malam, ketika sebagian besar orang sudah beristirahat.
Semoga Allah selalu menjaga kesehatan para pejuang dapur pondok. Aamiin. π€²β€οΈ
Di sudut dapur, saya sengaja menyapa anak-anak kelas 7 SMP.
Ada Dafan, anak kampung Donon sebelah.
Saya bertanya,
π¬ “Mas… yang rumahnya paling jauh siapa?”
Dafan menjawab,
“Ada, Ust… dari Kalimantan. Ada juga dari Riau.” π
“Yang dari Riau… panggil ke sini ya.”
Tak lama kemudian datanglah seorang anak bertubuh kecil.
Wajahnya tenang.
Matanya teduh.
Namanya…
Irfan Syarif Hidayatullah. π€²
Asalnya dari Pekanbaru, Riau. π΄
Dulu sekolah di MI Al Haramain Sukajadi, Pekanbaru.
Sekarang…
Masih kelas 7 SMP.
Masih baru menjadi santri.
Saya bertanya,
“Pas berangkat ke Jogja diantar siapa?”
Irfan menjawab pelan,
“Sama Ayah… Ibu… sama adik, Ust.” π₯Ή
“Naik mobil langsung dari Pekanbaru.”
Perjalanannya…
Tiga hari. ππ¨
Tiga hari meninggalkan rumah.
Tiga hari membawa harapan.
Tiga hari mengantarkan seorang anak menuju masa depannya.
Saya membayangkan…
Betapa berat hati seorang ibu melepas anaknya sejauh itu.
Sebelum berangkat…
Ibunya hanya berpesan,
> “Harus betah di pondok ya, Nak…” β€οΈ
Pesan yang sederhana.
Tapi mungkin diucapkan sambil menahan air mata.
Di sekolah dulu…
Ustadzah Elisa MI Al Haramain juga berpesan,
> “Kalau sudah SMP harus lebih dewasa. Sudah bukan anak SD lagi.” πΉ
Kini…
Sudah 16 hari Irfan tinggal di pesantren.
Saya bertanya,
“Betah?”
Ia tersenyum kecil.
π
“Betah, Ust… Seru… Temannya banyak.”
Alhamdulillah…
Tapi ternyata masih ada satu hal yang dirindukan.
“Kalau di pondok nggak bisa bebas nonton TV kayak di rumah…” πΊπ
Saya pun tersenyum.
Namanya juga anak SMP.
Rindu rumah itu wajar.
Rindu keluarga juga wajar.
Namun perlahan…
Rasa rindu itu mulai tergantikan oleh persahabatan.
Irfan bercerita, teman-teman yang sudah akrab dengannya adalah…
π€ Althof, Habibie, Husain, Abiq, Mirza, dan Aidil.
Tentang pelajaran…
Ia paling suka Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan IPS. π
Lalu saya bertanya,
“Guru yang paling diingat siapa?”
Dengan cepat ia menjawab,
“Ustadzah Wahyu Mitayani.” π
“Kenapa?”
“Karena ustadzahnya seru…” π
Sesederhana itu jawaban seorang anak.
Bukan karena pelajarannya mudah.
Bukan karena nilainya tinggi.
Tapi…
Karena gurunya membuat mereka bahagia.
β€οΈ
Malam semakin larut.
Pak Budi masih mengiris buncis.
Irfan masih duduk di samping beliau, ikut menemani. π₯¬
Saya memandangi mereka sejenak.
Lalu hati ini berkata…
Pesantren bukan hanya tempat belajar.
Di sinilah seorang anak belajar hidup jauh dari orang tua.
Belajar merindukan rumah.
Belajar mandiri.
Belajar dewasa.
Dan belajar bahwa…
Di tempat yang jauh dari pelukan ayah dan ibu…
Allah selalu menghadirkan orang-orang yang bersedia menjadi keluarga. π€²β€οΈ
Semoga kelak…
Saat Irfan pulang ke Pekanbaru…
Ia tidak hanya membawa koper berisi pakaian.
Tetapi juga membawa ilmu, akhlak, dan kenangan indah yang akan selalu ia ceritakan kepada anak-anaknya nanti.
Selamat berjuang, Irfan…
Perjalananmu memang tiga hari dari Pekanbaru ke Jogja.
Tetapi insyaallah…
Perjalanan menuju surga dimulai dari langkah kecilmu di pesantren ini. πβ€οΈ
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. π€²πΉ
βοΈ By @arifagungn