
Hari Jumat biasanya menjadi hari yang sedikit lebih longgar. Ada waktu untuk menarik napas lebih panjang setelah rutinitas yang padat. Namun, Jumat kali ini berbeda.
Sejak pagi, ada amanah yang harus ditunaikan: mengantar 24 santri SMP dan SMA Pondok Pesantren Bina Umat yang akan mengikuti Kemah BSMR di Kaliurang, Sleman. Karena keterbatasan armada, perjalanan harus ditempuh dua kali pulang-pergi antara pondok dan Kaliurang. 🚐
Melelahkan? Tentu.
Tapi begitulah amanah. Kadang tubuh ingin beristirahat, sementara tanggung jawab meminta untuk tetap melangkah. 😊
Di tengah perjalanan menuju Kaliurang, pikiran saya justru kembali ke suasana siang tadi di halaman Masjid Darul Iman.
Hari ini adalah jadwal pertemuan kakak dan adik kandung yang sama-sama mondok. ❤️
Tidak ada acara yang mewah. Tidak ada pelukan yang berlebihan. Hanya obrolan sederhana yang penuh makna.
Terlihat Azin kelas 7A bertemu kakaknya, Anindya, asal Pekalongan. Irfan Syarif kelas 7A bertemu Clarisa Ilfia kelas 9C asal Pekanbaru. Afiyah kelas 12B bertemu adiknya, Jannabil kelas 7A asal Bulungan, Kalimantan. Abrisam bertemu kakaknya, Humaira Atiqah Indi asal Kasihan, Bantul. Azka Nismara kelas 7A juga bertemu kakaknya, Layalia Hamdiya asal Imogiri, Bantul.
Namun entah kenapa, pandangan saya beberapa kali tertuju kepada Maya Nabila Husna kelas 12B yang sedang berbincang dengan adiknya, Muh. Prabu Brawijaya kelas 7B asal Wates, Kulon Progo.
Mungkin yang dibicarakan hal-hal sederhana.
“Betah, Dik?”
“InsyaAllah, Kak.”
“Yang rajin belajar ya… jangan lupa makan, jangan sering begadang.”
Tidak ada yang tahu.
Tetapi saya yakin, beberapa menit pertemuan itu jauh lebih berharga daripada panjangnya percakapan. Sebab yang sedang berbicara bukan hanya kakak dan adik, tetapi dua hati yang sama-sama sedang belajar menguatkan diri jauh dari rumah. 🤲
Tadi juga sempat melihat Abied kelas 12A berjalan menuju masjid. Sepertinya ia hendak menemui adiknya, Rabiah Adawiyah, asal Srandakan, Bantul.
“Kok hafal sekali nama-nama santrinya, Tadh?” 😄
Hehe… sedikit saja kok.
Lama-lama, menjadi guru di pondok memang begitu.
Bukan hanya hafal nama. Kadang hafal asal daerahnya, hafal kelasnya, hafal kebiasaannya. Bahkan tanpa sadar, ikut memikirkan mereka seperti anak sendiri.
Pertemuan siang tadi memang hanya diperuntukkan bagi kakak dan adik kandung. Sepupu belum diperbolehkan. Waktunya pun tidak lama.
Namun justru karena singkat itulah, setiap detiknya terasa begitu berharga.
Apalagi di bulan pertama ini belum ada jadwal penjengukan. Pertemuan singkat itu menjadi obat rindu, penyemangat, sekaligus pengingat bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian.
Mobil terus melaju menyusuri Jalan Magelang menuju Kaliurang. 🚐⛰️
Di dalam mobil, anak-anak bercanda dengan riangnya. Sementara di sudut hati saya, tersimpan satu pelajaran sederhana.
Kadang, seseorang tidak membutuhkan pertemuan yang lama.
Cukup beberapa menit bersama orang yang disayang, lalu mendengar satu kalimat,
“Semangat ya… kita sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik.” 🌹
Semoga Allah menjaga langkah mereka, menguatkan hati mereka, dan menjadikan setiap perjalanan menuntut ilmu sebagai jalan menuju keberkahan. Aamiin. 🤲
✍️ Ditulis oleh @arifagungn
📍 Di atas Jalan Magelang menuju Kaliurang Park, mengantar santri mengikuti Kemah BSMR.